Tommi-prayogi

Senin, 26 September 2011

manusia dan kematian


Kematian merupakan terlepasnya roh seseorang dari tubuhnya dan juga manusia menganggap kematian merupakan  suatu proses akhir kehidupan yang dialami semua makhluk hidup hanya saja waktunya berbeda-beda tanpa ada yang mengetahuinya , banyak orang di jaman sekarang ini yang tak mau membahas tentang kematian atau memikirkan tentang kematian tersebut. Kebanyakkkan orang mamandang kematian sebagai hal yang menakutkan dan menyedihkan karena seseorang belum bisa mencapai impiannya. Mereka menganggap bahwa kematian hanya terjadi pada  seseorang yang telah lanjut usiaanya,seseorang yang tak ingin hidup dan faktanya sekarang ini banyak orang tidak ingin memikirkan tentang kematian dirinya yang tidak menyenangkannya tersebut. Sekalipun, dia tidak bisa menjamin dan tahu  bahwa seseorang itu akan hidup dalam satu menit, jam, hari, tahun berikutnya apa tidak.
            Setiap orang pasti memiliki pandangan yang berbeda-beda mengenai kematian dan kebanyakan dari mereka kebanyakkan memandang kematian dari sudut pandang agama, menurut agama Katolik, percaya bahwa setelah kematian, jiwa orang yang meninggal berada di tempat penantian, dan jiwa itu dibersihkan sebelum masuk ke dalam ssorga. Protestan, mempercayai bahwa seseorang Kristen akan mati dan jiwanya langsung pergi bertemu Allah di sorga. Jiwa itu menantikan saat dibangkitkan dan kerajaan Kristus akan didirikan di dunia. Dalam kitab suci (alkitab) agama kristen dan katolik menjelaskan 4 ajaran pokok kitab suci mengenai masalah kematian, yaitu:
  1. Kematian sebagai akhir dari kehidupan
  2. Kematian sebagai lawan kehidupan
  3. Kematian sebagai perusak kehidupan
  4. Kematian sebagai tidur lelap
kematian menurut agama Budha
Agama Budha
Sang Budha bersabda “Kehidupan tidak pasti, namun kematian itu pasti”. Kematian pasti akan datang dan merupakan suatu hal yang wajar, serta harus dihadapi oleh setiap makhluk. Definisi kematian menurut agama Budha tidak hanya sekedar ditentukan oleh unsur-unsur jasmaniah, entah itu paru-paru, jantung ataupun otak. Ketakberfungsian ketiga organ itu hanya merupakan gejala ‘akibat’ atau ‘pertanda’ yang tampak dari kematian, bukan kematian itu sendiri. Faktor terpenting yang menentukan kematian ialah unsur-unsur batiniah suatu makhluk hidup. Walaupun organ-organ tertentu masih berfungsi sebagaimana layaknya secara alamiah ataupun melalui bantuan peralatan medis. Seseorang dapat dikatakan mati apabila kesadaran ajal (cuticitta) telah muncul dalam dirinya. Begitu muncul sesaat, kesadaran ajal akan langsung padam. Pada unsur jasmaniah, kematian ditandai dengan terputusnya kemampuan hidup.
Ada 3 (tiga) jenis kematian dalam agama Budha:
- Khanika Marana : Yaitu kematian atau kepadaman unsur-unsur batiniah dan jasmaniah pada tiap-tiap akhir (bhanga). Kematian ini biasanya disebabkan oleh habisnya usia (ayukkhaya), karena habisnya akibat perbuatan pendukung (kammakkhaya) yaitu kematian yang disebabkan oleh habisnya tenaga karma yang telah membuat terjadinya kelahiran dari makhluk yang meninggal tersebut, karena habisnya usia serta akibat perbuatan pendukung (ubhayakkhaya), dan karena terputus oleh kecelakaan, bencana atau malapetaka (upacchedaka). Keempat macam ini bisa diumpamakan seperti empat sebab kepadaman pelita, yaitu karena habisnya sumbu, habisnya bahan bakar, habisnya sumbu serta bahan bakar, dan karena tertiup angin.
- Sammuti Marana : Kematian makhluk hidup berdasarkan persepakatan umum yang dipakai oleh masyarakat dunia.
- Samuccheda Marana : Kematian mutlak yang merupakan keterputusan daur penderitaan para Arahanta.
Kematian menurut definisi yang terdapat dalam kitab suci agama Budha adalah hancurnya Khanda. Khanda adalah lima kelompok yang terdiri dari pencerapan, perasaan, bentuk-bentuk pikiran, kesadaran dan tubuh jasmani manusia atau materi. Keempat kelompok pertama merupakan kelompok batin atau ‘nama’ yang membentuk suatu kesatuan kesadaran. Sedangkan kelompok kelima yaitu jasmani manusia atau materi merupakan ‘rupa’, yakni kelompok fisik atau materi. Gabungan batin dan jasmani inilah yang disebut individu, pribadi atau ego.
Sang Budha menjelaskan bahwa kelompok ini bukan suatu pribadi lagi, melainkan suatu serial dari proses fisik dan mental yang tidak akan diam tetapi akan terus mengalir. Maka kelompok-kelompok ini akan muncul dan lenyap secara berturut-turut hanya dalam waktu yang sekejap. Masa berlangsungnya kelompok-kelompok mental ini sangat singkat sedemikian rupa, sehingga selama satu kaitan cahaya halilintar telah terjadi beribu-ribu bentuk pikiran atau saat berpikir yang berturutan dalam pikiran kita.
Peranan kematian adalah untuk menyadarkan setiap manusia akan akhir kehidupannya, bahwa betapa tinggi pun tempatnya, apapun bantuan teknologi atau ilmu kedokteran yang dimilikinya, pada akhirnya tetap harus mengalami hal yang sama yaitu di dalam kubur atau menjadi segenggam debu. Tetapi ini bukanlah akhir dari kehidupan dan kematian, karena proses kelahiran dan kematian akan terus berlangsung hingga kita mencapai kesempurnaan batin. Kematian itu selalu diikuti oleh peleburan dalam kematian itu, atau jika orang dapat melakukan tumimbal lahir ke dalam kehidupan (alam) yang ia ingini, maka tidak ada orang takut kepada kematian. Bahkan mungkin keinginan untuk mati bila seseorang makhluk telah merasa bosan hidup dalam suatu kehidupan, lalu ingin memasuki kehidupan baru.[13] Kata Anitya berarti kekal. Doktrin ini mengajarkan bahwa di dalam dunia tiada sesuatu yang kekal, semuanya adalah fana.[14]

Namun dilain pihak ada beberapa orang yang mempunyai anggapan bahwa kematian adalah jalan untuk menyelesaikan masalah, sehingga kematian dianggap sebagai sesuatu yang menyenangkan dan ketika mereka dihadapkan oleh berbagai macam masalah sering kali dpiirkan mereka yang muncul adalah” lebih baik saya mati aja dari pada hidup ini”. Mereka berpikir bahwa masalah yang mereka hadapi tak ada jalan keluarnya, mereka putus asa, mereka merasa kehadiran mereka di dunia ini hanya membawah kesialan dan menyusahkan orang-orang yang ada di sekitar mereka. Namun mereka ingin mengakhiri hidupnya, mereka tidak memikirkan orang-orang yang menyayangi mereka, pemikiran seperti itu muncul ketika sedang menghadapi masalah yang sulit untuk di selesaikan dan mereka cenderung mengambil keputusan yang terburu-buru sebelum memikirkan akibatnya kedepan
kesimpulan :
jadi setiap orang memiliki pandangannya masing-masing mengenai kematian, jika mereka memandang kematian menurut sudut pandang agama, maka sebaiknya mengubah pola pikir mereka, dan beranggapan bahwa kematian adalah sesuatu yang alamiah dan pasti akan terjadi pada semua makhluk hidup

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar